Saturday , July 22 2017
banner 728 x 125
Home / Silet.Life / Belajar Menghargai Perbedaan dari Supir Ojek Online

Belajar Menghargai Perbedaan dari Supir Ojek Online

60

Ada pemandangan yang berbeda di depan gedung kantor saya hari ini Senin (13/3). Ada empat orang pria berjaket Go-Jek berdiri di trotoar. Salah satunya membawa kotak bertuliskan “Donasi untuk Supir GRAB”. Usut punya usut, ternyata itu adalah sumbangan untuk supir Grab Bike yang ditabrak oleh supir angkot di daerah Tangerang beberapa waktu lalu. Kabarnya, hingga saat ini, keadaannya masih kritis. Artikel selengkapnya soal penabrakan tersebut bisa dibaca di sini.

Karena rasa penasaran, saya memutuskan untuk mengobrol sebentar dengan para supir tersebut. Mereka pun bercerita bahwa gerakan solidaritas ini merupakan inisiatif para supir saja. Bukan gerakan dari perusahaan. Saat mendengar kabar duka mengenai supir Grab Bike di Tangerang, komunitas supir Go-jek di Jakarta memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan di lokasi pangkalan mereka masing-masing.

“Kami dari pangkalan Satrio (Jl. Profesor Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta). Nah ada juga yang dari Pasar Minggu, Jakarta Barat, dan yang lain,” Ujar Nirwan, salah satu dari empat supir Go-Jek yang saya temui.

Keempatnya sudah meminta sumbangan sejak pukul 12.00 WIB, rencananya mereka akan terus meminta donasi hingga pukul 16.00 WIB, lalu tim lain akan menggantikan hingga malam. Pengumpulan donasi ini akan terus mereka lakukan hingga hari Rabu (15/3) 2017. Keempatnya rela mengorbankan waktu kerja demi membantu korban. Padahal tak satupun dari mereka yang mengenal korban secara langsung. “Ini rasa sepenanggungan aja, nggak masalah lah nggak kerja beberapa jam, demi beramal” Ujar supir lain yang bernama Lukman.

Hal lain yang membuat penasaran adalah, mereka tak mengenal korban, bahkan kerja di perusahaan ojek online yang berbeda. Namun mereka rela meluangkan waktu dan rezeki mereka demi membantu korban. Bahkan aksi yang mereka lakukan tak tersorot media sama sekali, murni demi beramal. Kok mau?

“Yang bersaing biarlah perusahaan, mba. Kami kalau di jalan, di lapangan, ya semua saudara. Rezeki itu sudah ada yang mengatur, nggak akan mungkin tertukar,” Ujar Lukman lagi.

Sesaat saya tertegun mendengar jawaban mereka. Profesinya sebagai tukang ojek mungkin tak membuat orang berpikir untuk meminta pendapat, apalagi belajar soal kehidupan kepada mereka. Tapi hari ini mereka sudah mengajarkan saya untuk lebih menghargai dan menerima perbedaan. Mereka tak membiarkan perbedaan menghalangi mereka untuk berbuat baik, untuk berbagi, untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena tak ada habisnya jika seseorang mau mencari perbedaan. Tapi saya yakin, dunia akan menjadi lebih baik, jika semua orang dapat menghargai perbedaan tersebut, dan menemukan persamaan, sekecil apapun itu.

Informasi berita Silet hari ini dan Gossip Artis bisa baca di situs ini !!

Dapatkan juga berita politik & berita mancanegara di situs ini !

Cara Daftar Sbobet Daftar Ionclub Daftar Maxbet Daftar Akun Maxbet Bocoran Prediksi Togel Daftar Klik4d Majalah Prediksi Bola Panduan Sbobet Wap Agen Macaubet Daftar Lexus88 Daftar Akun Sbobet Agen Liga365 Daftar Poker8indo Link Alternatif Sbobet Daftar S128 Daftar Akun Sbobet Agen Liga365 Daftar Poker8indo Link Alternatif Sbobet Daftar S128 Daftar Casino Sbobet Daftar rolet Daftar cf88vn Agen Cf88vn Rolet Online Daftar Joker123 Daftar Judi Ikan Daftar Tembak Ikan Daftar Akun Joker123 Daftar Poker Place Daftar Akun Togel Jadul Cara Main Togel Jadul Daftar Sabung Ayam

Check Also

33

Mencintai Orang yang Salah Memang Luka, Tapi Itu Membuatmu Dewasa

Sudah berapa kali kamu mencintai orang yang salah? Seberapa sering kamu merasa terluka dan terpuruk …

14

Sepenggal Kisah Kartini di Masa Lalu

Nama Raden Ajeng Kartini jelas sudah sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia. Wanita yang lahir …

98

Wanita yang Beneran Kaya Lebih Bahagia Tampil Sederhana

Nggak bisa dipungkiri kalau kita sering menilai dan menghakimi seseorang dari penampilannya. Kita sering tertipu …

Powered by themekiller.com